Kunjungan ke Museum Purbakala Pleret ini tidaklah direncanakan, karena memang belum ada di catatan Tempat Wisata Bantul yang saya buat lama sebelum kunjungan ke daerah Bantul Jogja ini. Hanya saja kebetulan mata ini menangkap tengara besar yang ada di pinggir jalan di halaman museum.

Supir pun saya minta untuk menghentikan kendaraan dan kemudian mundur ke belakang sampai di seberang jalan masuk ke museum. Pintu pagar ternyata digembok. Tidak mau menyerah, saya pun berjalan menuju ke sebuah warung yang berada di seberang Museum Purbakala Pleret untuk bertanya. Rupanya warung ini milik penjaga museum, Sukidi, dan beruntung ia ada di tempat.

Setelah berbincang-bincang sejenak, Sukidi lalu membukakan gembok pagar, dan mengantar kami masuk ke area museum yang lumayan luas ini. Entah apa sebabnya, Museum Purbakala Pleret yang dibangun tahun 2004 dan selesai tahun 2009 ini tak kunjung juga diresmikan, sehingga hampir selalu terlihat tertutup. Sukidi sempat menyebutkan bahwa museum baru akan dibuka pada 2013 nanti. Entahlah.

Tampak depan Museum Purbakala Pleret Bantul dengan papan nama yang meskipun agak terlihat gelap, namun tetap bisa tertangkap mata saya yang terlanjur terbiasa jelalatan.

Ada dua bangunan utama di kompleks Museum Purbakala Pleret ini, namun kami hanya masuk ke dalam gedung yang ada di sebelah kanan, seingat saya karena gedung yang satu lagi belum cukup koleksinya. Kecukupan koleksi itu juga yang tampaknya menjadi sebab belum diresmikannya Museum Purbakala Pleret.

Di bagian depan terdapat dua buah cungkup dengan atap limasan. Cungkup yang berukuran lebih besar di sebelah kiri merupakan tempat dimana terdapat sebuah situs yang disebut Sumur Gumuling.

Dua buah arca batu dengan bentuk tidak sempurna dipajang di halaman Museum Purbakala Pleret Bantul. Arca ini tampaknya digunakan sebagai pancuran di kolam pemandian yang biasa digunakan untuk melukat.

Arca batu lainnya yang berada di halaman Museum Purbakala Pleret Bantul, menyerupai bentuk Nandi, kerbau kendaraan Siwa. Arca-arca batu ini ditemukan di sekitar daerah Pleret, seperti Dusun Keputren dan Pungkuran.

Memasuki ruangan museum, terlihat cukup banyak arca batu berbagai bentuk dan ukuran di simpan di dalamnya. Tidak hanya arca, Museum Purbakala Pleret ini juga menyimpan beberapa koleksi peninggalan kuno lainnya.

Dua buah batu umpak serta sebuah batu candi berbentuk persegi memanjang diletakkan begitu saja di lantai ruangan Museum Purbakala Pleret.

Beberapa buah arca koleksi Museum Purbakala Pleret Bantul. Di sebelah kiri adalah Arca Jambhala, dewa kemakmuran dalam agama Buddha, yang ditemukan dalam penggalian situs Gampingan pada 1997. Penganut agama Hindu mengenalnya sebagai Kubera.

Jambhala biasanya digambarkan memiliki perut gendut, dalam posisi duduk bersila di atas padmasana, dengan kaki kiri menumpang di atas kaki kanan, tangan kanan menggenggam buah Jambhara (buah jeruk), tangan kiri memegang sekantung mutiara. Mahkota yang dipakainya disebut Kirimakuta, dengan Sira Cakra di belakangnya.

Di sebelah kanannya adalah Arca Chandralokeswara, yang dibuat dari batu andesit, juga berasal dari Situs Gampingan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Chandra berarti bulan, sedangkan lokeswara berarti “tuan di dunia”. Nama Lokeswara berasal dari bahasa Sanskerta yang juga merupakan sebutan penghormatan di India untuk Awalokiteswara, perwujudan sifat welas asih dari Buddha.

Paling kanan adalah guci dari bahan keramik yang berasal dari Jayan, Kebonagung, Imogiri, Bantul.

Koleksi arca-arca lainnya yang diletakkan di sepanjang sisi dinding Museum Purbakala Pleret.

Paling kiri adalah Arca Durga Mahisasura Mardini yang berasal dari Guyangan, Wonolelo, Pleret, Bantul. Durga adalah isteri Siwa, sedangkan nama belakang Mahisasura Mardini memiliki arti yang membunuh kerbau jelmaan Asura, bangsa Daitya atau raksasa musuh para dewa yang mengganggu kahyangan.

Arca Durga ini berdiri di atas kerbau yang tengah mendekam, bermahkota, mulutnya menyungging senyum, seuntai kalung meililit di leher, sepasang buah dada menggantung terbuka, dan bertangan delapan.

Satu tangan kanan telapaknya terbuka menghadap ke depan, dan masing-masing tangan lainnya memegang sesuatu. Di sebelah kanan Durga terdapat raksasa kerdil.

Lalu berjejer tiga Arca Agastya dengan bentuk dan ukuran berbeda, berasal dari Code, Trihanggo, Bantul; dari Guwosari, Pajangan, Bantul; dan dari Gokerten, Srigading, Sanden, Bantul. Agastya adalah nama seorang resi yang lahir di Kasi, Benares, India Selatan, yang sangat terkenal karena jasa-jasanya dalam menyebarkan Agama Hindu, sehingga ia disebut juga sebagai Batara Guru, perwujudan Siwa yang mengajarkan dharma.

Di sebelahnya lagi adalah Arca Ganesha, terbuat dari batu andesit, berasal dari Karanggede, Sewon, Bantul.

Sebuah lemari kaca kecil berisi uang kepeng dan tembikar, serta koleksi lingga, arca, dan batu pada sisi lain Museum Purbakala Pleret Bantul.

Belasan uang kepeng Cina yang terbuat dari bahan perunggu itu berasal dari Kedaton, Pleret, Bantul. Lalu ada talam terbuat dari perunggu yang ditemukan di Pelemmadu, Sriharjo, Imogiri, Bantul. Ada kemuncak atau puncak bangunan candi; ada Lingga Semu dari Situs Mantup, Baturetno, Banguntapan, Bantul; serta Lingga Patok asal Potorono, Bangunatapan, Bantul.

Sebuah potongan meriam terbuat dari perunggu asal Jambon, Bawuran, Pleret, Bantul, yang dipajang di sudut ruangan Museum Purbakala Pleret.

Sebuah koleksi Yoni di Museum Purbakala Pleret Bantul yang asalnya dari Panjangjiwo, Patalan, Jetis, Bantul. Dalam upacara, Lingga yang diletakkan di atas Yoni dibasuh dengan air suci yang kemudian mengalir melewati saluran samping Yoni dan ditampung, untuk kemudian dibagikan sebagai penyubur sawah dan ladang.

Papan di tengah ruangan Museum Purbakala Pleret  berisikan foto-foto situs-situs yang ada di sekitar daerah Bantul.

Setelah beberapa saat berada di dalam ruangan museum, kami pun keluar kembali ke halaman untuk melihat Sumur Gumuling.

Inilah Sumur Gumuling yang kabarnya tidak pernah kekeringan meskipun pada musim kemarau, berada di bawah cungkup di halaman depan Museum Purbakala Pleret. Konon di sini adalah bekas tamansari, yang dibuat atas permintaan Nyai Roro Kidul, sehingga ada yang mengatakan bahwa Sumur Gumuling ini merupakan pusernya Laut Selatan.

Sebuah batu Stupa di halaman Museum Purbakala Pleret, berasal dari Mayungan, Potorono, yang terlihat masih utuh dan indah.

Harapannya tentu adalah agar koleksi Museum Purbakala Pleret ini bisa ditambah, ditata dengan lebih apik, serta segera dibuka, sebagai sarana untuk menyusur lorong waktu bagi fondasi masa kini yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s